Konstruksi Pertimbangan Hakim dalam Penerapan Prinsip Kebaruan (Novelty) pada Penyelesaian Sengketa Desain Industri

Adi Kurniawan

Abstract

Abstract

 

The principle of novelty that applied on industrial design dispute settlement in Indonesia and United States of America shows that the principle of novelty applied based on Article 25:1 TRIPs Agreement. In TRIPs Agreement, interpretation method that used based on ‘significantly differ’. The Panel of Judges at Supreme Court judged that the comparison between the design of the motorcycle industry garuda owned by the Defendant did not significantly differ from the design of the motorcycle industry owned by plaintiff. In the United States, in interpreting novelty, the Court constructed the design by implementing "ordinary obeserver" and "point of novelty" that have long been the standard for assessing patent design infringement. The 'unequal' provisions are not explained by Act No. 31 of 2000 on Industrial Design. As one of the provisions governing the issue of indsutrial design in Indonesia, the law does not expressly state the application of the principle of novelty used. So there is a legal uncertainty in the application of novelty principles in the protection of industrial design in Indonesia so that it must be guided by Article 25:1 TRIPs Agreement.

 

Key word: novelty, industrial design, TRIPs.

 

Abstrak

Prinsip Novelty yang diterapkan dalam penyelesaian sengketa Desain Industri di Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa prinsip kebaruan diterapkan berdasarkan Article 25:1 TRIPs Agreement. Dalam TRIPs Agreement, metode interpretasi yang digunakan adalah merujuk terhadap ‘significantly differ’ atau perbedaan yang signifikan. Majelis Hakim Pengadilan Niaga menyatakan bahwa desain industri motor PT Anglo Sama Permata Motor (Tergugat) adalah baru dan tidak memiliki kesamaan dengan desain industri motor milik Honda Giken Kogyo Kabushiki Kaisha (Penggugat). Namun, Majelis Hakim pada tingkat kasasi menilai bahwa perbandingan antara desain industri sepeda motor garuda milik Tergugat tidak berbeda secara signifikan dengan desain industri sepeda motor milik Penggugat. Di Amerika Serikat, dalam menafsirkan kebaruan, Pengadilan mengkonstruksikan desain paten yang diklaim dengan memberikan deskripsi verbal terperinci tentang produk dan menerapkan “ordinary obeserver” dan “point of novelty” yang telah lama menjadi standar untuk menilai pelanggaran desain paten. Ketentuan mengenai ‘tidak sama’ tidak dijelaskan oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Sebagai salah satu ketentuan yang mengatur mengenai permasalahan Desain Indsutri di Indonesia, Undang-Undang tersebut tidak menyatakan secara tegas penerapan prinsip kebaruan yang digunakan. Sehingga terjadi ketidakpastian hukum pada penerapan prinsip kebaruan (novelty) dalam perlindungan desain industri di Indonesia sehingga mesti berpedoman pada Article 25:1 TRIPs Agreement.

 

Kata kunci: prinsip kebaruan, desain industri, TRIPs.

Keywords

Novelty; Desain Industri; TRIPs

Full Text:

PDF