KAJIAN TERHADAP TINDAKAN ADMINISTRASI PADA KEKUASAAN YUDIKATIF PASCA BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

Sapto Hermawan, Herman Herman

Abstract

Abstrak

Dalam rangka menyesuaikan beragam aktivitas pemerintahan maka tindakan administrasi sebagai instrumen pemerintahan dalam menjalankan tugas pemerintahan juga mengalami perluasan penafsiran baik dari sisi bentuk, substansi, maupun kriteria. Mendalilkan pada substansi di dalam Undang-Undang tentang Administrasi Pemerintahan, tindakan administrasi kemudian diberikan perluasan jangkauan kekuasaan sampai merambah pada kekuasaan legislatif dan yudikatif. Artikel ini disusun dengan menggunakan metodologi penelitian normatif, di mana digunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, kemudian sumber bahan hukum sekunder dianalisis dan dikualifikasi untuk kemudian dikerucutkan guna menjawab rumusan permasalahan yuridis yang ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) alasan berpijak doktrinal perihal tindakan administrasi pada wilayah kekuasaan yudikatif (Mahkamah Agung) sebagaimana diatur di dalam UU AP tidak mendapatkan porsi pembahasan yang cukup, konsekuensi hukumnya akan sulit untuk memberikan penafsiran serta membedakan kriteria atas tindakan administrasi pada wilayah kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif dari perspektif teori dan doktrin hukum administrasi negara; (2) bentuk tindakan administrasi pada kekuasaan yudikatif telah dirumuskan secara limitatif melalui Peraturan Mahkamah Agung, Surat Edaran Mahkamah Agung, dan Surat Keputusan, namun apabila dibandingkan dengan pengaturan di dalam Pasal 87 UU AP maka dapat disimpulkan bahwa tindakan administrasi pada kekuasaan yudikatif justru berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum; dan (3) Upaya hukum yang dapat ditempuh terhadap kesalahan atau kekeliruaun atas tindakan administrasi pada wilayah kekuasaan yudikatif pada tataran praktik dirasa sulit untuk dilakukan sebelum UU AP dan UU PTUN dilakukan upaya harmonisasi dan sinkronisasi.

 

Kata kunci: tindakan administrasi, kekuasaan yudikatif

 

Abstract

In order to adjust various government activities, administrative actions as a government instruments in carrying out governmental daily tasks also facing an extended interpretation in terms of form, substance, and criteria. According to essential of the Law Number 30 of 2014 concerning Government Administration, administrative actions are then given an extended interpretation over legislative and judicial powers. This article is composed using a normative research methodology, in which the statutory and conceptual approach is used, then secondary legal material is analyzed and qualified to be tighten to answer the existing legal issues. This articels revealed that (1) normative reasoning regarding administrative actions in the judicial power (Supreme Court) as regulated in the law number 30 of 2014 never get enough eplanation, the legal consequences is will be difficult not only to provide a comprehensive administrative interpretation but also to give a distinc qualification of administrative actions in judicial power related to the theory and doctrine of administrative law;(2) the administrative action on judicial power has been formulated limitatively through Supreme Court Regulations, Supreme Court Administrative Bill, and Supreme Court Decision, but when compared with the Article 87 of the Law Number 30 of 2014 concering Government Administratrion it can be summarized that administrative actions on judicial power may have cause of legal uncertainty; and (3) Legal remedies that can be taken against administrative wrongdoing at the judicial power, practically are considered difficult to be implemented prior to the Law concerning Goverment Administration and the Law concerning Administrative Court are successfull to be harmonized and synchronized.

 

Keywords: administrative action, judicial power.

Keywords

tindakan administrasi, kekuasaan yudikatif

Full Text:

PDF

References

Atmosudirjo, S. Prajudi, 1994, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi; Seri Pustaka Ilmu Administrasi Negara VII, Jakarta: Ghalia Indonesia

Djokosutono, 1982, Kuliah Ilmu Negara, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Lubis, Solly, 2014, Ilmu Negara,Edisi Revisi, Bandung:Mandar Maju.

Marbun, S. F., 2012, Hukum Administrasi Negara I, Yogyakarta: FH UII Press.

Mawardi, Irvan, 2016, Paradigma Baru PTUN; Respon Peradilan Administrasi terhadap Demokrasi, Yogyakarta: Thafa Media.

Minarno, Nur Basuki, 2011, Penyalahgunaan Wewenang dalam Pengelolaan Keuangan Daerah yang Berimplikasi Tindak Pidana Korupsi, Surabaya: Laksbang Mediatama.

Morrison, Wayne, 1997, Yurisprudensi; dari Zaman Yunani Kuno hingga Post-modern, terjemahan dari Jurisprudence: from the Greek to Post-modernism, Bandung: Nusa Media.

MS., Subur dkk., Ed., 2014, Bunga Rampai Peradilan Administrasi Kontemporer, Yogyakarta: Genta Press.

Muchsan, 1981, Beberapa Catatan Tentang Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi Negara di Indonesia, Yogyakarta: Liberty.

Mustafa, Bachsan, 2001, Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Pamudji, 1985, Perbandingan Pemerintahan, Jakarat: Bina Aksara.

Purbopranoto, Kuntjoro, 1981, Perkembangan Hukum Administrasi Indonesia, Bandung: Binacipta.

Sadjijono, H., 2001, Bab-bab Pokok Hukum Administrasi Negara,Yogyakarta:LaksBang Pressindo.

Soekanto, Soerjono, 1985, Perspektif Teoritis Studi Hukum dalam Masyarakat, Jakarta: Rajawali.

Soemitro, Rochmat, 1987, Peradilan Tata Usaha Negara, Bandung: Eresco.

Tjandra, W. Riawan, 2014, Hukum Sarana Pemerintahan, Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka.

Zaini, Hasan, 1985, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Bandung: Alumni.

Boughey, Janina, The Use of Administrative Law to Enforce Human Rights, Australian Journal of Administrative Law, Volume 15, Nomor 25, 2009.

Cane, Peter, 2011, Administrative Law Fifth Edition, Oxford: Oxford University Press.

Craig, Paul Ultra Vires and the Foundations of Judicial Review, The Cambridge Law Journal, Volume 57, Nomor 1, 1998.

de Smith, S. A., 1959, Judicial Review of Administrative Action, London: Stevens & Sons Limited.

Diplock, Lord, Administrative Law: Judicial Review Reviewed, The Cambridge Law Journal, Volume 33, Nomor 2, 1974.

Duguit, Leon, The French Administrative Courts, Political Science Quarterly, Volume 29, Nomor 3, 1914.

Erliyana, Anna, Judicial Control Terhadap Kewenangan Administrasi Negara: Tinjauan Aspek Liability (Tanggung /Awab) dan Remedy (Pemulihan Ganti Rugi), Jurnal Hukum dan Pembangunan, Volume 3, Nomor 1, 1998.

Forsyth, Christopher, Administrative Law and Human Rights, Pidato disampaikan pada Southern African Chief Justices Forum, Kasane, Botswana, 6-9 Agustus 2009.

________________, Of Fig Leaves and Fairy Tales: The Ultra Vires Doctrine, the Sovereignty of Parliament and Judicial Review, The Cambridge Law Journal, Volume 55, Nomor 1, 1996.

Foulkes, David, 1986, Administrative Law Sixth Edition, London: Butterworths.

Indroharto, 2004, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara: Buku I Beberapa Pengertian Dasar Hukum Tata Usaha Negara, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Jowell, Jeffrey dan Anthony Lester, Beyond Wednesbury: Substantive Principles of Administrative Law, Commonwealth Law Bulletin, Volume 14, Nomor 2, 1988.

Koesoemahatmadja, Djaenal Hoesen, 1983, Pokok-Pokok Hukum Tata Usaha Negara Jilid I, Bandung: Alumni.

Krieken, R van, Law’s Autonomy in Action: Anthropology and History in Court, Social & Legal Studies, Volume 15, Nomor 4, 2000.

Levenbook, Barbara Baum, The Role of Coherence in Legal Reasoning, Law and Philosophy, Volume 3, Nomor 3, 1984.

Lotulung, Paulus Efendie, 1994, Himpunan Makalah Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik, Bandung: Citra Aditya Bakti.

Loughlin, Martin., Procedural Fairness A Study of the Crisis in Administrative Law Theory, The University of Toronto Law Journal, Volume 28, Nomor 2, 1978.

MacCormick, Neil, 2010, Rhetoric and the Rule of Law: A Theory of Legal Reasoning, Oxford: Oxford University Press.

Metzler, Edward L., The Growth and Development of Administrative Law, Marquette Law Review, Volume 19, Nomor 4, 1935.

Moore, Dan, Engagement with Human Rights by Administrative Decision-Makers, Ottawa Law Review, 2017, Volume 49, Nomor 1, 2017.

Nico, Stehr, 1994, Knowledge Societies, London: Sage Publications. Phillips, O. Hood dan Paul Jackson, 1987, Constitutional and Administrative Law, London: Sweet & Maxwell Ltd.

Plesueur, A. dan Werberg, J., 1993, Constitutional and Administrative Law, Oxford: Cavendish Publishing.

Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, 1986, Catatan Rapat Proses Pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: Setjen DPR RI.

Stelmach, Jerzy dan Bartosz Brozek, 2006, Methods of Legal Reasoning, Dordrecht: Springer.

Strauss, Peter L. dan Walter Gellhorn, 1995, Gellhorn and Byse's Administrative Law: Case and Comments, Westbury: The Foundation Press.

Sunstein, Cass R. dan Adrian Vermeule, Libertarian Administrative Law, University Chicago Law Review, Volume 82, Nomor 1, 2015.

Utrecht, E., 1960, Pengantar Hukum Administrasi Negara Indonesia, Jakarta: Ichtisar.

Wade, H. W. R, 1971, Administrative Law, Oxford: Clarendon Press. Wintgens, Luc J., Coherence of the Law, Archives for Philosophy of Law and Social Philosophy, Volume 79, Nomor 4, 1993.

B. Internet

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5a0acec9c86f9/tiga-tahun-uu- administrasi-pemerintahan/ diakses pada tanggal 20 Januari 2020.

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5996d84f8da0d/hakim-perlu-berhati- hati-menerapkan-perluasan-makna-ktun dikases pada tanggal 20 Januari 2020.

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5aa7cc5c4b574/begini-cara-hakim- menambal-kelemahan-lembaga-fiktif-positif diakses pada tanggal 20 Januari 2020.

C. Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601).

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Tahun ? Nomor ?)

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun ? Nomor?)

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Ke Dua atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 160, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5079).

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2004tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4380).

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 77, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3344)

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyelesaian Sengketa Administrasi Pemerintahan Setelah Menempuh Upaya Administratif.

Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 57/KMA/SK/IV/2016 tentang Perubahan Atas Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 271/KMA/SK/X/2013 tentang Pedoman Penyusunan Kebijakan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Surat Ketua Mahkamah Agung Nomor 73 /KMA/HK.01/IX/2015.