PENTINGNYA PRINSIP-PRINSIP HUKUM HUMANITER DALAM UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA TERORISME

Markus H Simarmata

Abstract

Definisi terorisme dalam RUU Tindak Pidana Terorisme tidak mengatur tentang instalasi computer, tidak mencantumkan akibat terorisme yaitu kehancuran terhadap sistem transportasi, fasilitas infrastruktur, dan sistem informasi serta  tidak mengatur tentang kerugian ekonomi yang besar. Kemudian masih terjadi perdebatan terhadap definisi terorisme dalam hukum internasional karena banyak yang beranggapan bahwa tindakan kekerasan dan kerusakan yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang bukanlah merupakan perbuatan terorisme melainkan perjuangan untuk mewujudkan keadilan dan  kebebasan. Selanjutnya ketika terjadi perdebatan tentang definisi terorisme secara internasional maka selama ini PBB melaksanakan penerapan hukum humaniter sedangkan dalam ketentuan Konvensi  Terhadap Pengeboman oleh Terorisme mengamanatkan bahwa hukum humaniter internasional tidak berlaku pada saat terjadi tindak pidana terorisme. Untuk itu perlu segera merefisi definisi terorisme dalam RUU Tindak Pidana Terorisme agar juga mengatur tentang instalasi computer, mencantumkan akibat terorisme yaitu kehancuran terhadap sistem transportasi, fasilitas infrastruktur, dan sistem informasi serta  mengatur tentang kerugian ekonomi yang besar. Kemudian PBB sebaiknya meredefinisi ulang terorisme secara komprehensif dan obyektif sehingga dapat dipahami tindakan-tindakan apa saja yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana terorisme dan tindakan-tindakan apa saja yang dikualifikasikan sebagai protes terhadap kebijakan pemerintah yang kurang adil. Selanjutnya PBB harus segera merevisi Hukum Internasional yang terkait dengan tindak pidana terorisme dan Hukum Humaniter Internasional yang memberikan keleluasan kepada badan-badan internasional untuk menggunakan hukum humaniter internasional dalam menyelesaikan permasalahan terorisme internasonal.

Keywords

Definisi Terorisme Nasional; Definisi Terorisme Internasional; Hukum Humaniter

Full Text:

PDF

References

Resolusi Dewan Keamanan Nasional Nomor 1566, Dokumen PBB .S/RES/1566, tanggal 8 Oktober 2004, yang berusaha untuk lebih jelas menyusun parameter terorisme yang disebabkan oleh kukurangan dari definisi PBB terhadap terorisme yang belum komprehensif.

Rahmat Hidayatullah, Teror Definisi Dalam RUU Terorisme, (17 Mei 2018),

Jorg Friedrich, The Fire, USA: Columbia University Press, 2006.

K. Oellers-Frahm, Country Report on Italy, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

JA Frowein, The Present State of Research, Hague Academy of International Law, Centre for Studies and Research in International Law and International relations, The Legal Asepcts of International Terrorism, 1988.

Dokumen Nation of Nations C.546.M383.1937.V (1937).

G Levitt, Is Terrorism “Worth Defining? Ohio Northern University Law Review, 13 (1986).

K.Skubiszewski, Definition of Terrorism, Israeli Yearbook on Human Rights 19 (1989).

R.Grote, Country Report on United Kingdom, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

Wagner, Country Report Canada, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

U.S.C S1182(a) (3) (B).

Hugues Seraphin, Terrorism and Tourism in France: The Limitations of Dark Tourism, Winchester: The University of Winchster, 2017.

Martinez Soria, Country Report Spain, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

M. Rau, Country Report on Germany, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

Martinez Soria, Country Report Spain Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

Grote, Country Report United Kingdom, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

P Minnerop. Legal Status of State Sponsors of Terrorism in US Law, in this volume, 28

Beknazar, Country Report Russia, Conference On Terrorism as a Challenge for National and International Law, Max Planck Institute For Comparative Public Law and International Law, Heidelberg, 24-25 January 2003.

UN Doc.S/2001/1274,3.

Ljubomir Frckovski, International Human Rights Law 1st edition, Skopje: Magor, 2005

Draft, Article 2, reprinted in UN Doc.A /57/37, Annex II

J.A. Frowein, Der Terrorismus als Herausforderung fur das Volkerrecht, ZaoRV 62 (2002), 879 ff (882); S Oeter, Terrorismus, Ein volkerrechtliches Verbrechen, Die Friedenswarte 76 (2001).

Office of The High Commissioner for Human Rights, Report on the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms While Countering Terrorism, A/HRC/8/13 (2 Juni 2008).

Prof. Kristen Tomuschat, 11 September 2001 and The Legal Consequency, Trier, Law Regulation Forum, 2002.

Stefan Oeter, “Terrorism and ‘Wars of National Liberation’ from a Law of War Perspective”1989.

E. David, Le Terrorisme En Droit International (definition, incrimination, repression), dalam Reflexions sur la definition et la repression du terrorisme. Acte du colloque du 19 et 20 mars 1973, bruxelles 1974,

Y. Sandoz, Commentary on The Additional Protocols of 8 June 1977 to The Geneve Conventions of 12 August 1949, Geneva, ICRC, 1987.